Berita / Artikel

Beginilah Kiprah RAPI Kediri dalam Erupsi Kelud (Kompas.com)


KEDIRI, KOMPAS.com — Keberadaan radio amatir terbukti menjadi salah satu bagian krusial dalam penyebaran informasi yang valid pada penanggulangan suatu bencana. Seperti dalam bencana erupsi Gunung Kelud 13 Februari 2014 lalu.

Di Kabupaten Kediri, peranan radio amatir yang tergabung dalam Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) itu menjadi bagian penting penanggulangan bencana letusan yang merusak lebih dari 19 ribu rumah, dan membuat 66 ribu jiwa menjadi pengungsi di Kediri itu.

Eksistensi RAPI dalam bencana Kelud sudah kentara sejak sebelum letusan terjadi. Mereka turut menyebarkan informasi terkait kesiapsiagaan masyarakat selama rentang pra-erupsi.

Keberadaan anggota mereka yang tersebar dari hulu, atau disebut titik nol, hingga ke hilir atau masyarakat langsung, menjadi poin pentingnya. Titik nol dalam darurat Kelud adalah pusat informasi yang berada di Pos Pantau Kelud.

Pos pantau milik Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG), merupakan pusat data aktivitas kegunungapian yang ada di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Lokasinya sekitar tujuh kilometer dari puncak kawah Kelud.

Setiap enam jam sekali, data tersebut diolah untuk evaluasi. Dari posisi itu, tak ayal, RAPI selalu mendapat informasi akurat, lalu cepat tersalurkan kepada seluruh jajarannya, hingga ke masyarakat.

Terkait erupsi Gunung Kelud itu, RAPI patut dipuji. Mereka berada dalam lingkar wilayah sekitar Gunung Kelud, meliputi Kecamatan Ngancar, Kecamatan Wates, Kecamatan Ringinrejo, serta beberapa wilayah lain.

Merekalah orang-orang yang hampir tidak istirahat demi memberikan kabar terbaru perkembangan Gunung Kelud. Mereka setia menunaikan tugas di pos masing-masing, hingga detik-detik gunung berketinggian 1.731 mdpl itu meletus.

“Saya baru turun gunung bersamaan dengan para pengamat gunung yang ada di pos pantau,” kata Erik Sutrada, dengan nama udara Sukoco, pada Kompas.com, Minggu (23/2/2014).

Sukoco bertugas di pos titik nol sebagai petugas pusat informasi. Informasi dari titik nol akan dipancarkan kepada posko utama RAPI yang ada di kawasan Simpang Lima Gumul, atau berjarak sekitar 35 kilometer dari titik nol.

Sutrisno, anggota RAPI lainnya, bertugas di pos Sugihwaras, atau berjarak sekitar 10 kilometer dari puncak kawah. “Saat meletus, saya dan kawan-kawan masih berada di sekitaran gunung. Kami mengabarkan kondisi terakhir lapangan, sembari membantu evakuasi warga,” kata Sutrisno.

Seusai erupsi, tugas mereka belum selesai. Masih ada potensi bencana lainnya yang tidak kalah berbahaya, yaitu lahar hujan. Seakan tanpa lelah, mereka kembali bertugas. Mengabarkan informasi agar masyarakat terhindar dari musibah lahar hujan.

Di wilayah Kabupaten Kediri, ada enam sungai yang menjadi aliran lahar hujan. Para anggota RAPI bertugas mengabarkan aliran sungai mana saja yang sedang teraliri lahar hujan, dan sampai mana aliran itu.

“Supaya masyarakat yang berada di sekitaran sungai maupun warga yang ada di wilayah hilir menjadi waspada,” kata Sutrisno.

Kiprah mereka menginformasikan kabar lahar yang terjadi karena deposit material vulkanis yang terdorong oleh air hujan dari puncak gunung itu, terlihat pada 18 Februari 2014. Saat itu terlihat betapa sibuknya posko utama RAPI yang ada di Simpang Lima Gumul.

Mereka menerima kabar terkini aliran lahar dingin dari anggotanya di lapangan, lalu mengumumkan kepada masyarakat.

“Aliran lahar dingin sudah sampai di wilayah Puncu. Warga sekitar sungai harap waspada. Sekali lagi, waspada. Jangan sampai tidur,” kata operator berulang-ulang menyampaikan kabar kepada masyarakat.

Bencana lahar hujan saat itu, memang cukup besar. Beberapa rumah warga dan prasarana umum menjadi rusak karenanya. Bahkan sebuah jembatan penghubung antarkota, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang, sempat ditutup sementara.

Lahar hujan saat itu, tidak sampai memakan korban. Hingga saat ini, potensi terjadinya lahar hujan masih ada karena deposit material vulkanis, masih cukup banyak ada di kawasan puncak Kelud.

Selesai lahar hujan, anggota RAPI masih tetap bertugas. Mereka mengabarkan kondisi kekinian para pengungsi. Kondisi tentang jumlah maupun kebutuhan yang diperlukan bagi pengungsi yang tersebar di berbagai titik.

Wakil Ketua RAPI Wilayah Kabupaten dan Kota Kediri, Khoirul Huda, mengatakan, para anggota RAPI memang sudah dibekali kemampuan tanggap darurat. Pembekalan dilakukan jauh hari sebelum Kelud meletus.

“Hanya saja, kami masih merasa perlu meng-upgrade diri, terutama pada kemampuan perihal bidang evakuasi korban bencana,” kata pucuk pimpinan RAPI sekaligus Kepala Pos Pantau Kelud ini.

Khoirul menambahkan, tugas tersebut tidak lain adalah demi kemanusiaan. Ada perasaan bangga dan lega hati, kata dia, jika apa yang dilakukan RAPI mampu membantu masyarakat, sekaligus meminimaliasi jumlah korban.

“Kita melakukannya tidak sendiri. Di sana ada PVMBG, juga ada Muspika. Kami saling bersinergi,” kata dia.

Khoirul juga berharap, apa yang dilakukan di wilayah Kediri ini, dapat menjadi contoh RAPI yang ada di wilayah lain. Bahwa kepedulian sesama, kata dia, adalah tugas kemanusiaan paling tinggi.

Sumber: Kompas.Com

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *